Senin, 14 Maret 2011

Argo Wana Wisata Cupu Mas


Argo wana wisata cupu mas terletak di sebuah daerah berbukit yang mana wana wisata ini berada di area pegunungan ± 200 m dari permukaan laut, yang bernama pegunungan potorono. Kawasan tersebut terletak di Dusun Sedhan, Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Udara di daerah tersebut sangatlah sejuk serasa kita berada di suatu tempat dimana suatu pepohonan dan tanaman yang lainnya masih sangat alami.

Pesona yang ditawarkan dari argo wana wisata cupu mas ini yaitu suatu hutan dimana hutan tersebut merupakan hutan yang satu-satunya di Jawa Tengah yang masih alami sejak dahulu kala. Makanya banyak peneliti maupun badan kehutanan yang sering mengunjungi tempat itu dan tujuannya adalah untuk melestarikan hutan tersebut. Pernah ada tawaran dari suatu instansi yang mana mereka ingin membeli hutan tersebut seharga 2 M, akan tetapi masyarakat yang berada di sekitasrnya menolaknya. Pasalnya dari pembelian tersebut mereka akan menebangi pepohonan dan kayunya akan dijual, ya jelas saja kan pohon-pohon di hutan tersebut masih alami dan tentu besar-besar jadi kalau dijual pasti laku besar. Itulah suatu kisah dari penyakit bangsa ini yang tidak ada habisnya, masak demi keuntungan perut saja hutan yang sangat berarti demi kelangsungan hidup manusia begitu juga makhluk ciptaan Tuhan lainnya yang tergantung hidupnya pada hutan tersebut akan makan apa? Tanyain tu pada cukong-cukong kayu yang perutnya kayak drum minyak tanah, hee..he! Mungkin para mafia hutan itu belum pernah merasakan azab Alloh ya, coba seandainya saja jika rumah para cukong-cukong atau koruptor hutan itu rumahnya kebanjiran atau tertimpa tanah longsor akibat mereka menggondol kayu tanpa memepertimbangkan efek sesudahnya atau masa depan nantinya. Kita lihat sekarang ini di seluruh negara di dunia sedang bingung dan khawatir akan pemanasan global ( Global Warming ) dan para petingi-petingi negara itu berkumpul di Bali untuk membicarakan masalah itu dalam protokol Kiyoto, yang mana dari tiap-tiap negara akan mentutujui dan melaksanakan pengurangan dari bahan emisi maupun rumah kaca yang mana dari pembuangan emisi itu akan mengakibatkan lapisan ozon akan robek dan sekarang ini lapisan tersebut suah robek walaupun belum terlalu besar dan akibatnya yaitu iklim di dunia tidak menentu dan permukaan air laut semakin menunggi, dari protokol tersebut negara yang tidak mau menandatangani dan menyutuji diberlakukannya protokol itu ialah Amerika, yang mana Amerika adalah penguna energi emisi yang paling besar, terus dalam benak saya mengatakan apa sih maunya negri paman syam itu?. Dari salah satu penanggulangan dampak pemanasan global itu diantaranya yaitu adalah pemeliharaan dan penghijauan hutan. Gimana mau dirawat wong hutan kita ja sudah gundul. Ya memenag benar hutan yang ada di Indonesia sekarang ini memeng sudah memperihatinkan dan sangat tragis, dari hutan sekarang malah dijadikan suatu lahan pertanian yang katanya orang-orang penting tu biar dapat penghasilan lebih dari sektor pertanian. Ya memang benar kalu untuk sektor pertanian banyak mendapatkan keuntungan tapi kan kalau tidak ada lagi pohon-pohon yang besar kan tidak ada yang menyerap air, mempertahankan tanah dari longsor atau pemenuhan oksigen yang dihasilkan dari proses fotosintesis pohon, makanya udara segar sekarang ini mahal dicari. Dalam akhir-akhir ini para kaum pertempuan se indonesia serentak untuk menanam suatu pohon yang di prakarsai oleh ibu negara Ani Yudhoyono yang dengan para kaum perempuan menanam pohon yang nantinya akan mengurangi dampak dari pemanasan glbal, maka dari itu negara mencanangkan kepada masyarakatnnya untuk menanam pohon dan menjaga lingkungannya. 

Kembali ke hutan Argo Wana Wisata Cupu Mas, mungkin dari pemeliharaan hutan yang dilakukan masyarakat yang berada di sekitar kawasan tersebut merupakan bentuk kepeduliannnya untuk menjaga kelestarian dan kelangsungan kehidupan. Saya sebagai salah satu putra dari desa tersebut sangat bangga akan apa yang dilakukan oleh masyarakat untuk melestarikan hutannya karena itu merupakan aset yang berharga bagi kelangsungan hidup kita dan dari situ pengaruhpemanasan global saya kira nantinya akan berkurang, ”Ayo para pemuda dan pemudi bangsa, kita lestarikan hutan kita, kita bunuh para mafia dan koruptor hutan karena mereka merupaka tersangka dari kerusakan alam ini!!!!” . 

Dengan dibantu oleh dinas peternakan dan kehutanan kabupaten magelang wana wisata tersebut tengah akan dibangun guna suatu objek wisata dimana wisata yang akan ditawarkan adalah wisata alam. Disana kita akan diajari bagaimana mengenal lingkungan dan menjaga kelestarian lingkungan hidup, dan akan diajarkan bagaimana menanam dan melestarikan hutan. Ya seperti berwisata sambil belajar gitu!. Kita nantinya bisa jalan-jalan dan melihat suatu pepohonan yang masih besar-besar dan alami, jika kita beruntung kita bisa melihat sosok dua burung garuda yang konon merupakan burung yang legendaris kate oreng situ gitu. Dan di sekitar hutan itu juga bisa ditemui binatang-binatang seperti babi hutan, kijang, ayam alasn dan juga kalau ada monyet atau harimau yang sekarang sudah jarang di temuin. Di area itu juga dikembangkan beberapa peternakan diantaranya peternakan sapi dan kambing yang merupakan salah satu mata pencaharian orang di kawasan hutan tersebut selain sebagai petani. Jika kita lelah dalam perjalanan kita bisa istirahat dan memancing di suatu bendungan yang berada di lereng pegunungan potorono, kalo ada yang mau berrenang juga disediakan kolam renang juga lho.

Itulah suatu pesona keindahan alam wana wisata cupu mas, memang tempat itu masih dalam pembangunan dan pengembangan supaya layak dijadikan sebagai suatu objek wisata yang tidak kalah dengan Borobudur ataupun ketep pass yang merupakan objek pariwiasta yang sudah terkenal di kabupaten Magelang. 
Source : http://anoepotorono.blogspot.com/2007/12/aww-argo-wana-wisata-cupu-mas.html

Monumen Bambu Runcing


Kalau anda berkunjung di kota muntilan, jangan lupa mampir di monumen bambu runcing muntilan untuk sekedar istirahat sejenak  menghilangkan penat atau sekedar makan makan di warung warung tenda. Monumen ini dibangun untuk mengenang para pahlawan yang berjuang melawan penjajahan dengan senjatakan bambu runcing. Monumen berbentuk menyerupai bambu runcing ini tepatnya berada disebelah barat kota muntilan, kab.magelang, jawa tengah, indonesia.

Disekitar monumen ini ada beberapa patung pahlawan memakai senjata bambu runcing, Ada juga tempat bermain anak, serta patung patung binatang, Dan disekitarnya juga banyak pedagang lesehan yang menjual aneka makanan khas dari kota muntilan. Dan disebelah selatan monumen ini terdapat pusat kerajinan batu prumpung, Disana banyak dibuat patung patung dari batu. Tempat ini dapat diakses dari Magelang – muntilan – monumen bambu runcing, Atau bisa juga dari jogjakarta.

Source :  http://epwisata.wordpress.com/2009/07/02/monumen-bambu-runcing-menapaki-sejarah-bambu-runcing-di-muntilan/

Kerajinan Pahat Batu Desa Tamanagung Muntilan


A. Selayang Pandang
Desa Tamanagung adalah salah satu sentra Kerajinan Pahat Batu yang cukup terkenal di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dari 16 dusun yang ada di desa ini empat di antaranya mayoritas penduduknya bekerja sebagai perajin pahat batu. Keempat dusun tersebut adalah Dusun Ngawisan, Ngadiretno, Tejowarno, dan Prumpung. Dusun yang disebutkan terakhir ini merupakan cikal-bakal sentra Kerajinan Pahat Batu di Desa Tamanagung. Sejak dulu hingga sekarang dusun ini dikenal sebagai pemahat patung batu dengan menggunakan batu andesit sebagai bahan material utamanya. Dipilihnya batu andesit sebagai bahan material karena letak dusun ini berdekatan dengan lereng Gunung Merapi yang merupakan kawasan bebatuan yang melimpah ruah. Bebatuan tersebut berasal dari cairan lava panas yang tersembur dari dalam gunung lalu mengalir ke bawah, dan akhirnya membeku menjadi bebatuan.

Menurut cerita, bahan baku untuk pemugaran Candi Borobudur diambil dari Lereng Gunung Merapi tersebut. Ketika itu, Dusun Prumpung merupakan tempat transit bahan baku sebelum dibawa ke Candi Borobudur karena memang letaknya yang cukup strategis, yaitu berada tepat di tengah-tengah antara Lereng Gunung Merapi dengan Candi Borobudur. Pada tahun 1930, tiga orang pemahat batu dari Dusun Prumpung ini dipekerjakan oleh Theodoor Var Erp untuk memugar Candi Borobudur. Salah satu dari ketiga orang tersebut adalah Salim Djajapawiro. Dari keturunan Salim Djajapawiro inilah seni pahat batu mulai nampak dan berkembang di Dusun Prumpung.

Doelkamid Djajaprana atau yang akrab dipanggil Djayaprana adalah salah seorang putra Salim Djajapawiro yang disebut-sebut sebagai perintis kerajinan pahat batu di Dusun Prumpung pada tahun 1953. Berawal dari idenya, Djajaprana mengajak dua orang saudaranya Ali Rahmad dan Karin mencoba untuk memahat batu berbentuk kepala Buddha dengan mencontoh patung Buddha di Candi Borobobudur. Pada mulanya, mereka ragu-ragu untuk memulainya karena takut dianggap melanggar ajaran agama Buddha atau dianggap berdosa. Namun, dengan modal nekad, akhirnya berhasil membuat sebuah kepala patung Buddha yang sama persis patung Buddha di Borobudur. Alhasil, arca kepala Buddha buatan mereka berhasil dijual kepada seorang pedagang dari daerah Sumatera dengan harga Rp. 150,00. Berawal dari situlah, Djajaprana bersama kedua saudaranya mendirikan Sanggar Pahat Batu Sanjaya pada tahun 1960.

Pada mulanya, Djajaprana bersama kedua saudaranya masih memproduksi arca kepala Buddha di sanggar yang baru didirikannya. Tatkala ia mendapat dukungan dari Jenderal Gatot Subroto, usahanya pun kian berkibar dengan memproduksi berbagai bentuk kerajinan pahat batu berupa gapura. Melihat kesuksesan tersebut, warga di sekitarnya pun beramai-ramai ngangsu kaweruh (menimbah ilmu) kepada pria kelahiran tahun 1969 itu bersaudara sehingga Dusun Prumpung semakin ramai dengan perajin pahat batu. Sejak itulah, nama dusun ini diganti menjadi Sidoharjo. Kata “Sidoharjo” dalam bahasa Jawa terdiri dari dua kata yaitu sido yang berarti jadi, dan harjo yang berarti ramai. Jadi, Dusun Sidoharjo dapat diartikan sebagai dusun menjadi ramai.

Tidak hanya warga Sidoharjo, warga dari dusun lain di Tamanagung dan bahkan dari desa-desa sekitarnya pun ikut mengembangkan kerajinan pahat batu di daerah mereka. Mulai saat itu pertumbuhan sanggar pahat batu di Desa Tamanagung semakin menjamur setiap tahunnya. Dari tahun 1960-1970 telah berdiri sekitar 14 sanggar pemahat, kemudian tahun 1970-1980 bertambah menjadi 38 sanggar, dan sekitar 1980-1985 bertambah lagi menjadi 45 sanggar. Hingga saat ini, sekitar 5 km di sepanjang lingkar jalan Muntilan-Borobudur-Magelang terdapat ratusan pemahat dan pengusaha kerajinan pahat batu, mulai dari yang muda hingga yang tua. Para perajin tersebut tidak hanya memproduksi berbagai kerajinan pahat batu dalam segala model, misalnya miniatur candi, patung Buddha, gupala, ganesha, patung antik Wisnu dan Siwa, cobek, ulekan, meja kursi batu, lampion, air mancur, gapura klasik, relief, dan sebagainya.

Sekitar tahun 1970-an, seorang pemahat dari Bali bernama I Nyoman Alim Musthapa yang menikah dengan gadis Desa Sidoharjo memperkenalkan kreasi baru dengan gaya seni patung klasik Bali. Dengan kreasinya yang khas Bali tersebut, I Nyoman kemudian memperoleh pasar modern dengan membangun berbagai fasilitas hotel seperti Hotel Sheraton Solo, Sheraton Surabaya, Senggigi Hotel, Bali Imperial Hotel, dan sebagainya. Demikian pula kreasi-kreasi para perajin dari Desa Sidoharjo juga mulai menyebar ke berbagai kota seperti Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Semarang, dan bahkan diekspor dalam jumlah besar ke Belanda, Austria, Jepang, Hongkong, Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, Chili, Jerman, Eropa, dan lain-lain.

Produk kerajinan pahat batu yang banyak diminati oleh wisatawan mancanegara yaitu berupa patung-patung klasik seperti patung Buddha, Dewi Sri, dan Dewi Tara. Pesanan dari mancanegara ini bisa mencapai satu kontainer. Sementara itu, wisatawan domestik lebih menyukai patung klasik ataupun kreasi baru berupa lampion. Jika sedang banjir pesanan, omset seorang pemilik sanggar yang dibantu oleh beberapa orang pemahat bisa mencapai ratusan juta rupiah perbulan.

Harga produk kerajinan pahat batu pun bervariasi, tergantung kualitas pembuatannya. Masing-masing sanggar menentukan sendiri harganya karena hasil pengerjaannya juga berbeda-beda, ada yang halus dan pula yang kurang. Yang jelas harga yang ditawarkan oleh para perajin tergantung pada jenis, ukuran, dan kualitas sebuah produk dengan harga mulai dari kisaran puluhan ribu hingga ratusan juta rupiah. Lampion misalnya, harganya berkisar antara 100-500 ribu rupiah, relief Borobudur per meter persegi dihargai 1-1,5 juta rupiah, patung gupala berukuran 80 cm dijual seharga 1,5-2 juta rupiah, sedangkan yang berukuran 1 meter dihargari sekitar 4-5 juta.

B. Keistimewaan
Desa Tamanagung adalah salah satu obyek wisata desa yang banyak diminati oleh para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Di desa ini terdapat ratusan sanggar pahat batu yang memproduksi berbagai jenis, bentuk, dan ukuran kerajinan pahat batu yang terbuat dari bahan alami seperti batu putih, batu granit, maupun batu lava (batu candi). Wisatawan tidak hanya disuguhkan hasil kerajinan pahat batu yang sudah jadi, tetapi juga dapat memesan langsung sesuai dengan selera pemesan. Bahkan, tidak jarang pemesan sudah mempunyai sampel atau desain produk untuk didiskusikan bersama pemahat pada saat pemesanan berlangsung.

Selain itu, para perajin pahat batu di desa ini mampu melayani pesanan patung untuk berbagai keperluan dengan variasi ketinggian mulai dari ukuran 50 cm hingga puluhan meter. Para perajin juga sering mendapat pesanan untuk membuat tiruan berbagai bangunan bersejarah di beberapa negera seperti Angkor Wat di Kamboja, Pagoda Dagong Shwe di Myanmar, atau Istana Potala di Tibet. Selain patung-patung klasik dan bangunan bersejarah, para perajin juga melayani pesanan patung untuk keperluan interior dan exterior hotel, perkantoran, biara, maupun klenteng.

Tidak hanya itu, wisatawan yang berkunjung ke Desa Tamanagung juga dapat menyaksikan langsung para pemahat membuat berbagai kreasi kerajinan pahat batu. Di sana wisatawan dapat mengetahui bahwa untuk menghasilkan kreasi pahat batu, khususnya patung batu, yang bisa mengeluarkan aura tertentu memang tidaklah mudah, tetapi harus melalui tangan-tangan terampil para perajin, mempunyai jiwa seni serta perasaan yang halus dan ketulusan hati. Sebagai pekerja seni, imajinasi seorang perajin harus menjelajah ke mana saja, baik ke dunia mistis, etnis, religi, humor, bahkan ke hal-hal porno (menurut ukuran sebagian orang), demi menghasilkan karya seni yang mengagumkan.

Berkunjung ke desa ini, wisatawan juga dapat melihat berbagai teknik yang digunakan oleh para perajin dalam membuat kerajinan pahat batu. Seorang perajin terkadang menggunakan teknik tersendiri yang tidak digunakan oleh perajin lainnya. Misalnya untuk membuat kesan kuno pada sebuah patung atau arca, para perajin pada umumnya menggunakan bahan-bahan yang hampir sama yaitu berupa teh, kunyit, gambir, dan tanah liat. Namun, sebagian dari perajin, selain mencampurkan bahan-bahan tersebut juga menambahkannya dengan air accu (air aki) yang berfungsi untuk memperbesar pori-pori patung. Setelah berbagai bahan tersebut dioleskan ke seluruh permukaan patung, patung tersebut kemudian dibakar dengan kayu bakar. Teknik yang lebih unik lagi yaitu seusai dilumuri berbagai ramuan, patung tersebut dikubur di dalam tanah selama satu tahun lebih.

C. Lokasi
Sentra Kerajinan Pahat Batu Desa Tamanagung terletak di Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.

D. Akses
Sentra Kerajinan Pahat Batu Desa Tamanagung sekitar 29 kilometer dari Yogyakarta, atau sekitar 12 kilometer dari Candi Borobudur, atau lebih kurang 125 dari Kota Semarang. Dari arah Kota Yogyakarta, pengunjung dapat menggunakan kendaraan umum maupun pribadi. Jika menggunakan kendaraan umum, pengunjung dapat naik bus jurusan Yogyakarta-Semarang di Terminal Giwangan atau di Terminal Jombor.

E. Tiket
Wisatawan yang berkunjung ke Sentra Kerajinan Pahat Batu Desa Tamanagung tidak dipungut biaya.

F. Akomodasi dan Fasilitas
Sentra Kerajinan Pahat Batu ini berada pada jalur perjalanan wisata menuju Candi Borobudur dan Semarang dari arah Kota Yogyakarta. Dengan demikian, wisatawan dapat dengan muda menemukan berbagai fasilitas seperti penginapan, hotel, warung makan, dan pusat oleh-oleh makanan khas Magelang di sepanjang lingkar jalan raya Yogyakarta-Muntilan-Semarang.


Teks: Samsuni
(Data primer dan berbagai sumber)

Puncak Suroloyo


Wisatanesia.com--Puncak Suroloyo merupakan bukit tertinggi di kawasan pegunungan Menoreh yang terletak di di dusun Keceme, Gerbosari, kecamatan Samigaluh, kabupaten Kulonprogo. Selain memiliki pemandangan yang indah, tempat ini juga memiliki berbagai cerita dan mitos yang cukup kuat.

Ada dua jalur untuk bisa mencapai tempat ini yakni jalan Godean – Sentolo – Kalibawang dan dari jalan Magelang - Pasar Muntilan – Kalibawang. Jalur menuju tempat ini cukup sulit karena penuh tanjakan dan berbelok-belok. Sampai saat ini daerah ini memang hanya bisa dicapai dengan kendaraan pribadi saja.

Di daerah dengan ketinggian sekitar 1.100 meter diatas permukaan air laut ini, orang bisa menyaksikan bentangan alam yang begitu indah. Jika cuaca cerah, biasanya pada pagi hari, orang bisa memandang empat gunung besar di jawa yakni Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro. Dari tempat ini puncak Candi Borobudur yang berada di Magelang juga bisa dilihat dengan jelas.


Source : berbagai sumber

Candi Pendem

Candi Pendem sengi merupakan 1 candi yang berada di kompleks percandian sengi. seperti halnya 2 candi lainya ( candi asu sengi dan candi lumbung sengi). candi ini beragama hindu. dan jaraknya sangat berdekatan dengan candi asu sengi yang hanya berjarak 100 meteran. namun areal yang harus dilalui untuk menuju situs ini ialah dengan blusukan menyusuri persawahan warga dan keberadaan candinya sendiri berada di bawah tanah sekitar 2-3 meteran.

Candi ini kemungkinan masih 1 masa pembuatannya. yang tersisa di candi ini hanya reruntuhan candinya saja dan atap candi ta tersusun lagi kemungkinan masih tertimbun atau malah telah menghilang. dilihat dari keberadaannya yang dibawah tanah kemungkinan candi ini dahulu tertimbun lahar merapi yang sangat ganas. dengan fakta keberadaannya yang sungguh dalam di bawah tanah.

Yang tersisa di candi ini hanyalah sumuran candi beberapa mahluk gana didinding candi dan juga beberapa antefik yang berornamen sungguh indah. dan apabila dicermati secara meneyeluruh mahluk gana yang ada di badan candi semua gaya dan bentuknya yang hampir berbeda satu sama lainnya.

Ornamen antefiknyapun ga kalah menarik untuk dicermati begitu detai nenek moyang kita memahat setiap batu candinya.
Untuk menuju candi ini lebih gampang bertanya kepada warga sekitar karna letaknya yang nyempil dan tak terlihat dari jalan raya atau lihat peta di kompleks percandian sengi ini :

Candi ini sendiri berada di desa candi pos, desa sengi, kecamatan dukun, kabupaten magelang, jawa tengah. dan masih 1 jalur menuju obyekwisata ketep pass.

Tuk Drajat

Pancuran (Tuk) Drajat di Magelang 



Terletak di Kampung Tulung Kelurahan Magelang, tepat di pinggir Sungai progo terdapat Tuk/Pancuran yang dipercayai sebagai tempat wudhu Kyai Drajat (prajurit P.Diponegoro). Setiap malam tanggal 1 Syuro banyak dikunjungi orang dari luar kota untuk "memohon berkah" agar ditinggikan derajat atau pangkat dan dibebaskan dari segala nestapa.

Source : berbagai sumber

Makam Kyai Tuk Sanga


Makam Kyai Tuk Sanga berlokasi di Kelurahan Cacaban 1 km arah Barat kota Magelang, tepatnya di pinggir sungai Progo. Tradisi sadranan dan bersih "makam" oleh masyarakat setempat diselenggarakan setiap bulan Dzulhijah pada hari Jum'at Pon.

Source : berbagai sumber
ZoryBux - We Made A Lot Of Changes!