Sabtu, 11 Juli 2015

New posting

Hai semua temen- temen...
Lama sekali yah ga pernah posting lagi.. Maaf sekali :(

Besok2 kita akan mulai membuat posting tentang aneka ragam budaya dan serba serbi magelang yah...
Ayuk dibantuin update infonya sekitaran tentang magelang juga boleh loh ^*^



Salam

Admin

Selasa, 15 Maret 2011

Air Terjun Seloprojo

Gunung Telomoyo memang eksotik. Keeksotisan Telomoyo akan semakin terasa ketika kita mau menjelajahinya. Salah satu penambah keindahan Telomoyo adalah keberadaan air terjun di lereng gunung ini. Di manapun tempatnya, air terjun adalah sebuah keajaiban. Demikian juga air terjun yang ada di lereng gunung Telomoyo. Masing-masing memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri.

Dalam satu perjalanan turun dari gunung Telomoyo, aku menjumpai ada 2 air terjun, yaitu air terjun Sumuran dan air terjun Sekar Langit. Menuruni jalan berkelok dan aspal yang telah mengelupas, aku bertemu dengan sebuah pertigaan. Jika ke kiri, aku akan sampai ke Kopeng. Maka aku memilih jalur yang ke kanan. Karakteristik jalan yang berliku-liku aku lalui. Untungnya kualitas jalan sudah baik. Akhirnya aku berjumpa dengan pertigaan dan terdapat tulisan penanda: air terjun seloprojo. Penanda itu aku ikuti. Medan yang aku lalui cukup sulit. Namun tidak menyurutkan keinginan untuk menikmati keindahan air terjun Sumuran ini.

Air terjun Sumuran atau Seloprojo terletak di Desa Seloprojo, Kecamatan Ngablak 44 km sebelah tenggara Kota Magelang. Air terjun ini dinamai Sumuran karena, menurut cerita, air terjun ini berasal dari sumur yang berada di sebelah atas atau pangkal air terjun. Pada mulanya, air terjun ini tak ada yang melirik. Mendekati pun enggan karena terkesan angker. Maklum saja, air terjuan ini berada di balik rerimbunan pohon pinus dan tanaman hutan lainnya. Seiring perkembangan zaman dan keindahan yang terpancar dari air terjun ini, dibukalah air terjun ini menjadi tempat wisata. Pembukaan lahan di sekitar air terjun oleh masyarakat pun turut memberikan andil sehingga kesan angker makin lama makin berkurang.
 
Air terjun Sumuran ini sangat khas dan berbeda dengan air terjun lain yang berada di lereng gunung Telomoyo. Air terjun dengan ketinggian sekitar 35 meter ini dikelilingi hutan pinus dan perbukitan terjal. Uniknya, limpahan air terjun ini di tampung dengan bak penampungan. Bak penampungan ini dibuat menjadi dua tingkat. Pada sisi depan bak penampungan ini terdapat ornamen kepala singa. Dari kepala singa inilah limpahan air mengalir ke kolam dibawahnya dan dialirkan lagi ke selokan yang digunakan masyarakat untuk kepentingan pengairan. Sebuah jembatan berpagar besi menjadi penghias air terjun ini.
Karena daya tarik keindahan alam dan karakteristik air terjun yang unik ini tidak mengherankan banyak orang mempergunakan tempat ini untuk bernarsis ria. Ada kalanya tempat ini dipakai untuk acara pre-wedding. Tidak hanya itu, air yang jernih pun seolah mengundang kita untuk sekedar membasuh kaki atau tangan, bahkan mandi.
 
Puas menikmati keindahan air terjun Sumuran ini, aku melanjutkan perjalanan. Aku menuju ke arah Grabag. Tidak jauh dari desa Seloprojo, aku masuk desa Telogorejo. Di desa inilah aku menemukan sebuah penanda: air terjun Sekar Langit. Karena tertarik, aku pun menghentikan perjalanan dan mampir ke tempat ini. Dari tempat parkir, aku harus melalui jalan setapak. Mulanya, jalan ini dibuat corblock. Selanjutnya jalan tanah. Akhirnya aku sampai di kompleks air terjun Sekar langit. Cukup jauh juga jalan yang harus aku lalui dari tempat parkir menuju air terjun. Jalan yang naik turun menjadikan nafas ini ngos-ngosan.
Lega rasanya ketika aku melihat ada jembatan yang melintang di atas jembatan. Segera kupercepat langkahku. Dan benar saja. Aku masuk kompleks air terjun Sekar langit. Ternyata, ada dua buah jembatan. Jembatan yang satu dibangun untuk menggantikan jembatan bambu lama yang telah lapuk. Jembatan ini dibuat lebih besar. Bahan dasarnya tetap sama, yaitu menggunakan bambu. Di kanan kiri jembatan terdapat pagar pengaman sehingga para pengujung tidak perlu takut ketika melintasi jembatan bambu ini menuju ke air terjunnya. Dari jembatan gantung ini, aku masih harus berjalan lagi melawati jalan setapak di pinggir sungai. Sesampai di puncak jalan ini, barulah terpampang sebuah pemandangan yang membuat mulutku ternganga. Air terjun Sekar langit ada di hadapanku. Airnya sangat jernih.
Air terjun Sekar Langit adalah nama yang indah. Dalam bahasa Jawa, Sekar berarti bunga, dan Langit berarti langit. Jika diterjemahkan berarti bunga yang turun dari langit. Air terjun Sekar Langit merupakan tetesan mata air yang berasal dari puncak gunung Telomoyo, gunung yang membatasi antara kota Salatiga dan kota Magelang di Jawa Tengah. Air terjun setinggi sekitar 30 meter ini mengalir ke arah barat menuju ke aliran sungai Elo untuk nantinya bermuara di laut selatan Jawa.
Wilayah dimana air terjun ini berada, termasuk ke dalam wilayah Telogorejo, Magelang, Jawa Tengah. Warga sangat menghormati air terjun yang satu ini. Tentu ada sebab musababnya, yaitu adanya sebuah runtutan kisah dongeng klasik dibalik pesona Sekar Langit. Ya… disebut-sebut, air terjun Sekar Langit ini merupakan air terjun yang terdapat dalam dongeng legenda Joko Terub, seorang pria iseng yang mencuri selendang bidadari yang sedang mandi di sebuah air terjun.
Terlepas dari benar atau tidaknya legenda itu, namun Sekar Langit menyajikan sebuah pemandangan yang luar biasa indah. Air yang turun membentuk sebuah kolam besar. Lau airnya mengalir menyusuri sungai di sela-sela batu-batu besar. Ada banyak titik yang bisa dipakai untuk menikmati keindahan air terjun sembari bermain dengan airnya yang jernih dan dingin. Kewaspadaan sangat diperlukan. Hal ini berkaitan dengan adanya kemungkinan banjir yang bisa setiap saat datang. Sudah ada beberapa kasus yang terjadi dan menelan kurban.

Tak terasa, waktu terus berjalan. Di atas sana, mendung mulai mengelayut. Meski enggan, aku harus mengakhiri petualangan menikmati keindahan air terjun di sepanjang perjalanan dari Gunung Telomoyo – Grabag – Magelang.

Source : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2010/08/23/menikmati-air-terjun-di-lereng-telomoyo

Makam Sunan Geseng

Sunan Geseng, atau sering pula disebut Eyang Cakrajaya, adalah murid Sunan Kalijaga. Ia adalah keturunan Imam Jafar ash-Shadiq, dengan nasab: Sunan Geseng bin Husain bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin 'Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

Menurut hikayat, pada suatu saat ia mengikuti anjuran Sunan Kalijaga untuk mengasingkan diri di suatu hutan untuk konsentrasi beribadah kepada Allah. Di tengah lelakunya itu, hutan tersebut terbakar, tapi beliau tidak mau menghentikan tapanya, sesuai pesan sang guru untuk jangan memutus ibadah, apapun yang terjadi, sampai sang guru datang menjenguknya. Demikianlah, ketika kebakaran berhenti dan Sunan Kalijaga datang menjenguknya, dia dapati Cakrajaya telah menghitam hangus, meskipun tetap sehat wal afiat. Maka digelarilah beliau dengan Sunan Geseng.

Makam Sunan Geseng terletak di Dusun Jolosutro, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Letaknya kira-kira 2 km di sebelah kanan Jalan Yogyakarta-Wonosari Km. 14 (kalau datang dari Yogyakarta). Setiap tahun ada perayaan dari warga setempat untuk menghormati Sunan Geseng. Selain di dekat Pantai Parangtritis, Jogjakarta, makam Sunan Geseng juga dipercaya terdapat di sebuah desa yang bernama Desa Tirto, di kaki Gunung Andong-dekat Gungung Telomoyo-secara administratif di bawah Kecamaan Grabag, Kabupaten Magelang Jawa Tengah.

Masyarakat sekitar makam khususnya, dan Grabag pada umumnya, sangat mempercayai bahwa makam yang ada di puncak bukit dengan bangunan cungkup dan makam di dalamnya adalah sarean (makam) Sunan Geseng.

Pada Bulan Ramadhan, pada hari ke-20 malam masyarakat banyak yang berkumpul di sekitar makam untuk bermunajat. Selain itu, di Desa Kleteran (terletak di bawah Desa Tirto) juga terdapat sebuah Pondo Pesantren yang dinamai Ponpes Sunan Geseng.

Source :  http://waliyullahtanahjawi.blogspot.com/2010/05/kanjeng-sunan-geseng.html
                http://www.masizan.co.cc/2010/04/biografi-sunan-geseng_14.html

Kerajinan Tanduk Desa Pucang, Magelang


Sejak dulu kota Magelang, Jawa Tengah memang telah dikenal akan keindahan dan kesejukannya kotanya. Selain itu kota ini juga terkenal akan tempat-tempat wisata yang memiliki karakteristik tersendiri, sebut saja seperti Candi Borobudur dan candi-candi lainnya yang tersebar di beberapa tempat.

Jika anda berkunjung ke Magelang, ada satu tempat yang tidak boleh dilewatkan. Selain bisa melihat dari dekat pembuatan benda-benda yang terbuat dari bahan tanduk, anda pun tidak perlu pusing untuk membawa oleh-oleh untuk kerabat dan handaitaulan.

Bau menyengat dari pembakaran tanduk dan debu hasil amplasan kayu hingga saat ini masih menjadi kehidupan sehari-hari di sentra kerajinan tanduk dan kayu di Desa Pucang, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Kondisi tersebut menandakan masih ada aktivitas para perajin untuk memenuhi permintaan konsumen. Hasil kerajinan dari daerah tersebut hingga sekarang masih banyak diminati konsumen lokal, nasional maupun luar negeri.

Tangan-tangan terampil warga Pucang tersebut mampu mengubah tanduk kerbau dan sapi maupun beberapa jenis kayu menjadi perkakas rumah tangga dan pernik-pernik aksesoris yang indah dengan sentuhan seni.
Kerajinan tanduk dari daerah itu antara lain centong nasi, mangkok, “cepuk” (tempat perhiasan), sisir, pipa rokok, sendok, dan garpu makan berukir, sedangkan dari bahan kayu menghasilkan produk berupa “solet”, entong, irus, tongkat, dan sisir kutu.

Hasil kerajinan warga Pucang yang terletak sekitar 8-10 km arah timur dari pertigaan Secang di Jalan Semarang-Yogyakarta ini tidak kalah dengan hasil industri modern dari bahan plastik yang kini membanjiri Tanah Air.

Usaha kerajinan tanduk berlangsung turun-temurun di Desa Pucang dan sejak 1960-an desa ini telah terkenal menjadi sentra kerajinan tanduk, sedangkan sentra kerajinan kayu mulai dirintis tahun 1990-an karena semakin langkanya bahan baku tanduk.

Seorang warga yang mempunyai usaha kerajinan tanduk dan kayu, Muhammad Imron di Dusun Karang Kulon, Desa Pucang mengatakan hasil produksinya dikirim ke Yogyakarta, Jakarta, Bali, Bandung, dan Surabaya.
Menurut dia, melalui pedagang perantara di beberapa kota tersebut, hasil kerajinannya terutama dari bahan tanduk diekspor ke sejumlah negara di Eropa.

Ia mengatakan, untuk produk kerajinan kayu berupa sisir kutu dari bahan kayu sawo dalam beberapa tahun terakhir permintaannya cenderung ramai, bahkan dalam sebulan mencapai 6.000 hingga 7.000 kodi.
“Sisir kutu dengan harga Rp1.000 per biji, permintaan untuk satu desa bisa mencapai 15 ribu kodi per bulan,” katanya.

Ia mengaku tidak khawatir dengan membanjirnya produk plastik dari China. “Kami berani bersaing dengan produk plastik dari China karena harga juga bersaing,” katanya.

Perajin lain Muh Kojib mengatakan, untuk produk kerajinan kayu tidak terpengaruh dengan produk plastik.
Hingga sekarang setiap pekan tidak kurang 1.000 kodi entong kayu dari desa ini dikirim ke sejumlah kota.
“Setiap pekan kami ada permintaan entong 250 kodi, belum ditambah dari perajin yang lain sehingga jumlahnya bisa mencapai 1.000 kodi lebih,” katanya.

Ia mengatakan, kerajinan dari bahan kayu sono keling dan puspo tersebut bisa dijual murah Rp 14 ribu per kodi karena diproduksi secara besar-besaran. “Kalau tidak murah kita akan tersaing dari produk China,” katanya.
Sementara itu, harga produk kerajinan yang lain, jam dinding dari kayu Rp 40 ribu per buah, tongkat kayu Rp 15 ribu per buah, garuk punggung Rp 3 ribu per biji, hiasan naga dari tanduk Rp 125 ribu per buah, mangkok tanduk Rp 17 ribu per buah, tusuk konde Rp 5 ribu per biji, dan sisir Rp 5.500-Rp 7.500 per buah.
Modal dan Bahan Baku

Para perajin menyatakan bahwa hingga sekarang belum pernah mendapat bantuan modal dari pemerintah baik dana bergulir maupun hibah, selain itu mereka mengeluh kesulitan mendapat bahan baku tanduk yang semakin langka.

Muh Kojib mengatakan, untuk pemasaran dan bahan baku kayu tidak ada masalah karena telah mempunyai jaringan dan kayu mudah didapat di sekitar Magelang, namun untuk bahan baku tanduk kini semakin sulit.
“Dahulu mudah mendapatkan tanduk dari Jakarta, di sana banyak tempat penyembelihan sapi, namun sekarang sulit memperolehnya mungkin karena bukan sapi lokal bertanduk yang disembelih,” katanya.
Hal senada diungkapkan M Imron, untuk mendapatkan tanduk di Jakarta semakin sulit, kalau dahulu mendapatkan 1,5 hingga 2,5 ton tanduk sebulan bisa dengan mudah, sekarang mendapat delapan kuintal saja sudah untung.

Menurut dia, karena susah mencari tanduk di Jakarta, kini harus mencari ke luar Jawa, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Di luar Jawa masih banyak bahan baku tanduk, tetapi karena transportasi jauh maka harganya menjadi mahal,” katanya.

Ia mengatakan, para perajin sebenarnya ingin sekali mendapatkan bantuan modal dengan bunga ringan dari pemerintah, namun selama ini belum pernah mendapatkannya.

“Memang pernah ada tawaran dari Dinas Perindustrian, namun jumlahnya relatif kecil maksimal hanya Rp 5 juta, padahal kami butuh sekitar Rp 30 juta untuk mengembangkan usaha,” kata pengusaha yang omzet penjualannya mencapai Rp30juta hingga Rp 40 juta per bulan ini.

Selama ini, katanya, untuk mendapatkan tambahan modal mengandalkan pinjaman kredit dari bank swasta yang persyaratannya lebih mudah meskipun dengan bunga lebih tinggi.
Muh Kojib, mengatakan sekitar 15 tahun lalu pernah didirikan koperasi perajin Pucang, namun berhenti di tengah jalan.
“Sebenarnya koperasi yang direncanakan untuk menyediakan bahan baku dan menjual hasil kerajinan itu sudah mempunyai kantor di kompleks Pasar Pucang, namun koperasi ini tidak jalan,” katanya.
Berbeda dengan Imron, Kojib mengelola usaha kerajinannya dengan modal tekun dan belum pernah meminjam modal ke bank karena merasa persyaratannya terlalu berat.

“Selama ini kami mengembangkan usaha hanya dari uang tabungan saja, belum pernah meminjam modal dari perbankan,” katanya.

Ia mengaku pernah mendapat tawaran dari BKK Secang Rp 10 juta, namun karena bunganya sama dengan perbankan dia tidak mengambilnya.

Kojib berharap pemerintah memperhatikan para perajin dengan memberikan bantuan modal, karena sentra kerajinan Pucang ini menyedot tenaga kerja tidak sedikit, termasuk dari luar daerah.

Sambil berwisata dan melihat dari dekat sentra kerajinan dari tanduk, pastinya akan membuat anda memiliki kepuasan tersendiri. Dan yang lebih penting tentunya, juga dapat menjadi sebuah inspirasi untuk menjadikannya sebuah bisnis yang sama ditempat anda. Nah, tunggu apa lagi…!(ant/hms)

Source : http://matanews.com/2010/10/19/antara-wisata-dan-bisnis-di-desa-pucang/

Salak Nglumut

Salak pondoh merupakan tanaman unik, dengan bentuk pohon seperti bagian atas pohon kelapa sawit dengan sentuhan sedikit corak pakis, menjadi keunikan tersendiri bila disusun berjajar. Buahnya yang tumbuh di pangkal bawah, berbentuk kecil dengan daging buah yang kenyal serta tidak menempel dengan biji, juga rasanya yang sangat manis, menjadi nilai jual bagi buah ini.

Salak pondoh adalah fenomenal . Mulai dikembangkan pada kira-kira tahun 1980an, salak yang manis dan garing ini segera menjadi buah primadona yang penting di wilayah DIY . Tahun 1999, produksi buah ini di Yogyakarta meningkat 100% dalam lima tahun, mencapai 28.666 ton. Kepopuleran salak pondoh di lidah konsumen Indonesia tak lepas dari aroma dan rasanya, yang manis segar tanpa rasa sepat, meski pada buah yang belum cukup masak sekalipun.

Gambaran produksi itu jelas memperlihatkan lonjakan pesat dari tahun-tahun sebelumnya. Perkiraan produksi salak di seluruh Jawa sampai tahun 1980an hanya berkisar antara 7.000 - 50.000 ton, dengan wilayah Jawa Barat menyumbang kurang lebih setengah dari jumlah itu.

Salak pondoh sendiri ada bermacam-macam lagi variannya. Beberapa yang terkenal di antaranya adalah pondoh super, pondoh hitam, pondoh gading, pondoh nglumut yang berukuran besar, dan lain-lain. Di wilayah DIY, sentra penghasil salak pondoh ini adalah kawasan lereng Gunung Merapi yang termasuk wilayah Kecamatan Turi , Kabupaten Sleman .

Salak pondoh nglumut atau kerap pula disebut salak nglumut, namanya diambil dari nama desa penghasil varietas salak unggul ini yaitu Desa Nglumut yang juga berada di hamparan Merapi dan termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Srumbung , Kabupaten Magelang , Jawa Tengah .

Kini perkebunan salak pondoh telah meluas ke mana-mana, seperti ke wilayah Wonosobo , Banjarnegara , Banyumas , Kuningan dan lain-lain.


Source : http://binamar.yolasite.com/agrowisata.php

Obyek Wisata Ancol Blingo


KOMPAS.com — Pada hari pertama dan kedua Lebaran, jalur Jalan Raya Magelang-Yogyakarta selalu menjadi titik kemacetan parah. Jika tak ingin macet, jalan samping Mungkid-Kalibawang bisa menjadi pilihan menghindari jalur utama tersebut.

Jalur itu tidak saja menawarkan pemandangan asri lahan pertanian dengan latar Perbukitan Menoreh, tetapi juga menawarkan kekayaan wisata budaya dan sejarah, mulai dari candi-candi, Bendungan Karang Talun, hingga makam Pahlawan Nasional Nyi Ageng Serang.

Dari arah Kota Magelang, Jawa Tengah, jalan samping ini diawali dari ibu kota Kabupaten Magelang, Mungkid, yang terletak sekitar 10 kilometer (km) ke arah selatan melalui jalan menuju kompleks wisata Candi Borobudur.

Selepas kompleks kantor Bupati Magelang di Mungkid, akan ditemukan pertigaan besar. Jika membelok ke kanan akan menuju Candi Borobudur. Adapun jalur lurus akan menuju Candi Mendut.

Sekitar 900 meter dari pertigaan tersebut akan ditemukan Jembatan Kali Elo dengan pertigaan lain di ujungnya. Jalur utama ke kiri akan membawa pada Candi Mendut, sementara jalur ke kanan akan masuk ke jalur alternatif Kalibawang-Godean.

Periksa cadangan bahan bakar kendaraan Anda sebab sesudah pertigaan ini, SPBU maupun fasilitas umum lainnya akan semakin jarang ditemui. Ada dua SPBU Pertamina dan toko swalayan di Mungkid sebelum pertigaan ini.
Meneruskan perjalanan ke arah selatan, aktivitas pertanian tembakau menjadi pemandangan menyegarkan di sepanjang Jalan Dekso-Muntilan. Pemandangan pertanian nan hijau ini bisa dinikmati hingga perbatasan Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta.

Pahlawan


Tepat di perbatasan provinsi ini, terdapat pintu air Karang Talun, yang juga dikenal dengan sebutan Ancol. Selain karena pemandangan unik, pintu air ini sarat dengan kisah sejarah Yogyakarta.

Pintu air, yang mampu mengairi 3.000 hektar lahan sawah itu, pertama kali dibangun pemerintah kolonial Belanda tahun 1909, kemudian dipugar Pemerintah RI pada tahun 1980.

Pintu air Karangtalun merupakan hulu Selokan Mataram yang sangat dikenal warga Yogyakarta. Selokan, yang menghubungkan Sungai Progo dan Opak itu, dinormalisasi oleh Sultan Hamengku Buwono IX pada masa penjajahan Jepang dengan metode padat karya sebagai strategi melindungi rakyat Yogyakarta dari pengiriman kerja paksa ke luar Jawa.

Di sebuah perbukitan tak jauh dari bendungan, tersembunyi kisah kepahlawanan lain, yaitu makam perempuan pahlawan nasional Nyi Ageng Serang. Makam salah satu panglima perang kepercayaan Pangeran Diponegoro itu terletak di Dusun Beku, Pagerarjo, Kalibawang, Kulon Progo.

Jalan Dekso-Muntilan berakhir pada perempatan Dekso, sekitar 30 km barat Kota Yogyakarta. Untuk mencapai Kota Yogyakarta, ambil jalan ke kiri menuju jalan lingkar barat.

Di sepanjang jalur samping Muntilan-Dekso bisa ditemui sejumlah perkebunan buah naga dan sentra kerajinan gula jawa. Antara Dekso dan Yogyakarta terdapat pula Pasar Godean yang terkenal dengan beragam keripik, mulai belut, kulit melinjo, hingga bayam. Berbagai jenis keripik, buah-buahan, dan gula jawa itu bisa menjadi bingkisan oleh-oleh.

Van Lith dan Muntilan "Bethlehem van Java"


MUNTILAN, sebuah kota kecamatan di Jawa Tengah, terletak pada KM 25 dari Yogyakarta ke Magelang, menorehkan kisah pembenihan dan pembentukan elite Katolik di Jawa. Selain nama Pastor R Sandjaja Pr yang terbunuh tahun 1948, dikenang manis pula nama Pastor FGJ Van Lith SJ (1863-1926). Mereka dimakamkan di lokasi yang sama, Pemakaman Muntilan, salah satu tempat ziarah umat Katolik di Jawa.

Pada akhir abad ke-19, 1897, Van Lith mulai berkarya di Muntilan, yang dia sebut sebagai "Bethlehem van Java". Ia menetap di Desa Semampir di pinggir Kali Lamat. Di desa kecil itu ia mendirikan sebuah sekolah desa dan sebuah bangunan gereja yang sederhana. Gereja kecil dan sekolah desa itu kemudian berkembang menjadi satu kompleks gedung-gedung yang di tahun 1911 dinamai St Franciscus Xaverius College Muntilan.

Salah satu sekolah yang kemudian dikenal sebagai trade mark adalah sekolah guru. Sekolah guru untuk penduduk pribumi Jawa tersebut didirikan tahun 1906, dan bisa dimasuki oleh anak Jawa dari mana pun, dari agama apa pun. Sengaja Van Lith menempatkan pendidikan sebagai unsur terpenting dalam kaderisasi masyarakat Jawa. Lewat pendidikan sekolah di Muntilan dihasilkan elite politik Katolik seperti Kasimo, Frans Seda, dan sejumlah tokoh lain.

Meskipun akhirnya sekolah ini menjadi inti kaderisasi elite politisi Katolik Indonesia, tidak kalah penting kecintaan Van Lith pada bumi dan manusia Jawa. "Aku hidup di tengah-tengah orang Jawa; berperasaan dan berpikir seperti mereka," tulis Romo Van Lith.

Tujuan pendidikan yang diselenggarakannya adalah meningkatkan kualitas anak-anak Jawa sehingga mereka mendapatkan kedudukan yang baik dalam masyarakat.

Sekolah guru berbahasa Belanda itu (Kweekschool), yang didirikan tahun 1906, mula-mula mempunyai murid 107 orang, 32 di antaranya bukan Katolik. Di tahun 1911 dibuka secara resmi seminari (sekolah calon pastor) pertama di Indonesia karena sebagian di antara lulusannya ingin jadi pastor. Satu di antaranya Mgr A Soegijapranata SJ (1896- 1963), yang kemudian Uskup Keuskupan Agung Semarang-uskup pertama pribumi.

Tahun 1948, kompleks sekolah ini dibakar. Tetapi, dari sana sudah dihasilkan elite Katolik Indonesia. Berbeda dengan bangunan sekolah Mendut yang menghasilkan elite perempuan yang tak berbekas sama sekali, kompleks sekolah Muntilan masih punya petilasan. Selain gereja Paroki Muntilan yang tahun ini genap 110 tahun, di sana masih ada sekolah berasrama, SMU Van Lith.

NAMA Van Lith dikenang banyak orang. Mgr Soegijapranata, salah seorang muridnya, mencatat di tahun 1950, "adalah seorang imam Belanda yang oleh orang Jawa, baik Katolik maupun bukan Katolik sampai hari ini dihormati sebagai Bapak Orang Jawa...." Ia pun diusulkan sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat) Partai Sarikat Islam, pimpinan teman dekat Van Lith, KH Agus Salim. Memang ia tidak pernah jadi anggota Dewan Rakyat. Tetapi, atas kegiatannya di bidang pendidikan ditunjuk menjadi anggota Dewan Pendidikan Hindia Belanda dan anggota Komisi Peninjauan Kembali Ketatanegaraan Hindia Belanda.

Di kedua lembaga itu Pater Van Lith memperjuangkan kepentingan pribumi. Belanda marah. Maka, ketika mau kembali ke Indonesia setelah berobat di Belanda, dia dihalang-halangi kembali. Ia dicap sebagai "orang yang terlampau giat, kurang berhati-hati, dan beberapa kali ucapannya membuat orang tersinggung". Namun, akhirnya Van Lith boleh kembali ke Indonesia, 9 Juni 1926, meninggal di Muntilan dan dimakamkan di sana dengan adat Jawa.

Kepeloporan Romo Van Lith dalam proses penyadaran bangsa Indonesia atas hak-hak mereka diakui dan dihargai Gereja. Ia dicatat sebagai peletak dasar misi di Jawa. Bumi Muntilan dicatat memberi sumbangan besar. Meskipun kompleks bangunan asli sudah terbakar, "semangat Muntilan" tetap berkobar dalam banyak hati rasul awam dan rohaniwan.

Kemudian, dalam peringatan 100 tahun pastor-pastor Jesuit berkarya di Indonesia (1959), diabadikan kebanggaan: "Sesungguhnyalah! Mulailah Muntilan!"
Paus Yohanes Paulus II, dalam pidatonya di Unika Jakarta, 12 Oktober 1989, menyatakan, "Dalam Gereja Katolik di Indonesia kaum intelektual sejak semula memainkan peranan yang mengagumkam. Di banyak daerah, tulang punggung perkembangan umat adalah guru-guru. Umat Katolik melibatkan diri secara aktif dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia."

Paus Yohanes Paulus II, saat berpidato di Yogyakarta tanggal 10 Oktober 1989, mengungkapkan isi hatinya. Ia melukiskan hari itu berada di jantung Pulau Jawa untuk secara khusus mengenang mereka yang telah meletakkan dasar bagi umat-Nya, yaitu Romo Van Lith SJ dan dua muridnya, Mgr Soegijapranata dan Bapak IJ Kasimo.

(ST SULARTO, dari berbagai sumber)>kompas kcm, Sabtu, 27 Desember 2003